KE-VAKUM-AN
Friday, January 18th, 2008VACUUM … CLEANER?
Tdk terasa blog penulis ini sudah vakuum selama bbrp bulan..(udah lebih dari setengah tahun kali, ya?)
Karena itu, penulis hanya bisa emm..(sweating like crazy) …merasa bersalah kepada diri sendiri dan beberapa pembaca pembaca setia (yang jumlahnya mungkin lebih sedikit dari secuil jari tangan)…
Akan tetapi, hal ini bukannya tidak tak mungkin ga dapat dan pasti secara aboslut dihindari …..(Nah, bingung kan..maklum saja, gw sendiri aja bingung jadi kl bagian ini salah, plis kasih feedback kpd penulis) sebabnya bagian zat abu2 (baca: otak) penulis sejak beberapa bulan terakhir emang sedang kosong2nya alias vakuum.
Kl vakuum cleaner setidaknya masih ada sisa2 debu abu2 yg lengket, maka penulis ini seperti kehilangan semangat untuk menulis, kehilangan sumber inspirasi, kehilangan arah dan tujuan hidup,kehilangan teman dan sahabat, kehilangan pegangan hidup, kehilangan saudara2 di boarding sch, kehilangan jati diri, kehilangan ide ide cerita, bahkan kehilangan tempat yang sudah dianggap rumah oleh penulis. Terbuang dari segala sesuatu yang sebelumnya sudah seperti bagian tubuh sendiri layaknya lengan dan kaki, sehingga jiwa penulis ini hanya bisa meringkuk menahankan dan akhirnya kehilangan emosi (devoid of emotion) di sudut terujung yang terdapat di kumpulan neuron-neuron yang kata orang-orang pintar ada di dalam batok kelapa….kepala ini. Segala sesuatu terasa hampa dan kosong. VAKUUM..
Berangkat ke sekolah hanya untuk memanggul tas sekolah super berat dari pagi hingga sore hanya untuk dibawa pulang tanpa terisi oleh setitik ilmu pun.
Makan dinner terasa seperti hanya menelan sebutir demi sebutir, seonggok demi seonggok sampah yg akhirnya harus dikeluarkan lagi dari sistim tubuh ini.
Bahkan tidur saja pun tidak tenang. Anggap saja seperti sedang berbaring di atas sarang semut.
SEMUA ini sedikit demi sedikit mulai memaksa masuk dan menginvasi sosok dan jiwa penulis, yang akhirnya menggerogoti penulis hingga menyebabkan mental penulis VAKUUM, menyebabkan penulis tidak bisa merespon terhadap stimuli-stimuli luar, menyebabkan hidup penulis hancur tak terkendali layaknya angin puting beliung yang menghantam suatu kawasan tetap tinggal menyisakan jejak2 kematian.
Ntah kapan gejala2 ini muncul, akan tetapi penulis merasa segala sesuatunya bermula sejak awal tahun lalu, akan tetapi tidak pasti penyebabnya oleh karena keVAKUUMan yg terlalu lama.
UNTUNGlah, selama liburan bulan Desember kemarin penulis menjalani program rehab kejiwaan. Menurut dokter, terlambat sedikit saja, penulis bisa saja sudah mencapai tahap kritis dan tidk tertolong lagi. (不救了。) Sampai sekarangpun, penulis masih dalam tahap rehabilitasi yg sangat demanding dan melelahkan mental. Akan tetapi, dokter dokter dan ahli terapi penulis sangatlah mendukung langkah2 yang diambil penulis. Mereka selalu mengingatkan bahwa penulis harus "live life to the fullest." To live, to keep living walaupun kesusahan, kegalauan dan kegelapan selalu menimpa penulis. They made me realize that Just being alive is such a lovely and wonderful thing.
Karena itu, penulis hingga hari ini akan trus berjuang dan berjuang untuk mengisi kembali keVAKUUMan tahun lalu. Hingga sampai suatu saat, ketika penulis pada akhirnya mampu menyanyikan lagu untuk memuja (sinar terang) matahari.